Entry Mei 2013 – Sesuatu dari Masa Lalu

Nadine sedang memandangi langit melalui jendela kamarnya ketika terdengar bunyi ketukan di pintu, disusul suara seseorang, “Nadine?”

“Masuk.”

Pintu terbuka dan Reinald melangkah masuk. Seperti biasa pemuda itu mengenakan kaus polo putih dan celana corduroy coklat. Rambut pendeknya tersisir rapi.

Rei mengulurkan sesuatu. “Aku nemuin ini di lemari penyimpanan artefak. Kayaknya punyamu.”

Nadine menerima benda tersebut. Sebuah kalung tembaga yang warnanya sudah mulai pudar dimakan waktu. Liontinnya berbentuk kristal es bersudut enam. Tanpa membaliknya pun gadis itu masih ingat tulisan yang ada di belakang liontin tersebut.

Mer Nadine. Ye Dinne, Ye Larri, Ye Daevar.

Nin des sere ti imene.

“Aku nggak ngerti bahasa Ildaris, tapi kayaknya itu barang yang cukup penting,” kata Rei. “Aku nggak tahu kenapa benda kayak gitu bisa terkubur di dalam lemari.”

Nadine memandangi kalung itu sejenak. “Ini hanya sesuatu dari masa lalu,” jawab gadis itu.

Ya, hanya sesuatu yang ia dapatkan tiga setengah tahun lalu…

***

Nadine bergegas melangkah ke beranda bertegel putih di hadapannya. Setelah menanggalkan sepatu, gadis itu membuka pintu dan berseru gembira, “Sore!”

Lili menoleh kepadanya dan tersenyum lebar, “Halo, Na.” Gadis berambut sebahu dan berwajah ramah itu sedang duduk di sofa kulit berwarna hitam di ruang tamu. “Tumben kamu baru dateng jam segini?”

“Iya, nih,” Nadine melepas tas dari bahu dan menghempaskan tubuh ke sofa di seberang Lili. “Tadi dosennya semangat amat neranginnya, jadinya kuliah molor sejam. Sejam, coba!” gadis itu mengalihkan tatapan ke pemuda yang duduk di sebelah Lili, dan mengangguk. “Hai, Lex.”

Pemuda berkacamata itu membalas sapaan tersebut dengan anggukan. Seperti biasa, wajahnya tampak amat serius, seolah menanggung beban dunia. Nadine sering beranggapan kalau Alex selalu melakukan segala sesuatunya dengan serius. Baik ketika melakukan kegiatan sehari-hari, menolong sesama, atau melindungi Lili yang ia sayangi.

“Nadine!” seorang gadis bertubuh mungil tiba-tiba melompat ke sofa dan mulai menggosok-gosokkan kepala ke lengan Nadine seperti seekor kucing.

Nadine tertawa melihat tingkah gadis itu. “Halo, Marin. Mbakmu mana?”

“Di belakang, lagi nyiapin makanan sama Teh Niken.”

“Wah, hari ini Melinda masak apa?” rasa lapar Nadine mulai terbit. Masakan Melinda selalu sangat enak, tidak kalah dengan buatan koki dari hotel berbintang lima.

Marina tersenyum misterius. “Ada, deh.”

“Aah, kasih tahu, dong!”

“Nggak mau,” jawab Marina seraya nyengir usil.

“Ih, pelit!” Nadine berpaling pada Ferdi, yang saat itu sedang menghampiri mereka, dan bertanya padanya, “Fer, Melinda lagi masak apa, sih?”

Pemuda jangkung dan bertubuh kurus itu tersenyum sebelum mengambil tempat di sebelah Marina. “Lihat aja nanti.”

“Ih, nggak rame!” Nadine bangkit berdiri. “Ya udah, kulihat aja sendiri.”

“Jangan!” seru Marina dan Lili berbarengan. Keduanya pun langsung berpandangan dengan wajah memerah, seperti tertangkap ketika melakukan sesuatu yang terlarang.

“Kenapa?” tanya Nadine.

“Ummm…” Marina tampak sibuk mencari-cari jawaban. Gadis itu menoleh pada Lili, namun Lili pun seperti tak tahu harus berkata apa.

“Wah, mencurigakan, nih,” Nadine mengamati mereka berdua lekat-lekat. “Melinda lagi nyiapin apa, sih?”

“Melinda sedang membuat masakan kejutan,” tiba-tiba terdengar suara Lex. Pemuda itu membetulkan kacamatanya sebelum melanjutkan, “Jadi tak seorang pun yang diperbolehkan masuk sebelum ia selesai.”

“Oh, gitu? Ya udah,” Nadine kembali duduk. Kalau Lex sudah berkata begitu, pastilah itu kenyataannya. “Tapi katanya Teh Niken juga ada di sana?”

“Teh Niken kan penguasa dapur di sini,” jawab Ferdi. “Mbak Melinda sekalipun harus sungkem dulu sama dia kalau mau pakai dapur.”

Nadine tertawa mendengarnya. Ya, itu memang benar. Secara teknis, rumah tempat mereka berada itu sebenarnya adalah milik saudara Aryo. Karena saudaranya itu sedang berada di luar negeri, rumah tersebut dipinjamkan kepada Aryo, dan Niken istrinya, untuk dirawat dan dijaga. Tapi Aryo dan Niken lebih sering berada di rumah tersebut ketimbang di rumah asli mereka, sehingga praktis Nadine dan yang lainnya menganggap rumah tersebut telah menjadi rumah Aryo dan Niken.

“Oh iya, Ruben, Indra, sama Ronny mana?” tanya Nadine.

“Indra sama Kang Ronny di ruang tengah, kayaknya lagi diskusiin sesuatu,” jawab Lili.

“Kalau Ruben sih biasa, di kamar,” timpal Marina.

Nadine kembali bangkit berdiri, membuat Lili bertanya, “Mau ke mana, Na?”

“Ngecek mereka.”

“Bilang aja mau ketemu Kang Ronny,” Marina terkekeh usil.

“Hus!” sahut Nadine. “Anak kecil jangan sotoy!”

“Anak kecil gini juga udah punya pacar, lho,” sahut Marina seraya menyandarkan kepala ke bahu Ferdi. “Masa Nadine kalah?”

“Kalo aku pacaran, nanti siapa yang ngurusin kalian?” kilah gadis itu.

“Ah, alibi!” sahut Marina, Ferdi, dan Lili nyaris bersamaan. Bahkan Lex pun turut tersenyum.

“Biarin!” Nadine menjulurkan lidah, dan sebelum yang lainnya sempat membalas, buru-buru berlalu ke ruang tengah.

Seperti halnya di ruang tamu, ruangan itu juga diisi sofa-sofa empuk yang melingkari sebuah meja. Indra sedang duduk di sana, tampak asyik berbincang dengan Ronny.

Nadine merasakan jantungnya mulai berdetak lebih kencang ketika melihat pemuda itu. Sebenarnya Ronny tak bisa dikatakan sebagai seseorang yang tampan. Dengan wajah lebar, rahang kokoh, dan tubuh tinggi besar, pemuda itu sekilas tampak kasar dan mengancam. Namun kesan itu akan langsung hilang ketika menatap mata Ronny. Mata yang amat teduh, memancarkan ketenangan dan kelembutan yang amat dalam. Dan entah kenapa, rasanya selalu amat nyaman kala bersama pemuda itu.

Seakan mendengar detak jantungnya, Ronny mengangkat wajah. Ketika pandangan mereka bertemu, pemuda itu tersenyum, membuat debaran jantung Nadine bertambah kencang.

Indra juga menyadari kehadirannya. “Halo, Teh!” sapa pemuda bertubuh gempal itu. Wajahnya yang polos dan ramah tampak berseri-seri.

“Halo, Ndra.”

“Sini, Dialarri,” panggil Ronny. “Aku sama Indra lagi diskusi seru. Pasti tambah rame kalau kamu ikutan.”

Nadine merasakan wajahnya memerah. Dialarri. Panggilan yang berarti Adik Biru itu hanya digunakan Ronny untuknya, membuat sebutan itu terasa seperti suatu panggilan sayang.

“Nanti, ya,” Nadine memaksa diri menjawab, walaupun sebenarnya ia ingin sekali bergabung dengan mereka. “Aku mau ngecek Ruben dulu.”

Ronny melambaikan tangan tanda mengerti, dan Nadine pun berbalik lalu menghampiri salah satu pintu kamar di dekat sana. Setelah mengetuk, gadis itu membukanya dan menjulurkan kepala, “Ruben?”

Pemuda itu sedang duduk di atas tempat tidur, wajahnya tertutupi buku yang ia baca. Seluruh jendela di kamar itu tertutup rapat oleh tirai, membuat ruangan tersebut tenggelam dalam bayang-bayang.

“Kok baca sambil gelap-gelapan?” Nadine menekan saklar lampu, dan ruangan itu pun jadi terang-benderang. “Nggak baik buat mata, lho.”

Ruben menurunkan bukunya. Pemuda itu seumuran dengan Marina dan Indra, empat tahun lebih muda dari Nadine, dan wajahnya yang manis kekanak-kanakan semakin mempertegas hal tersebut. Namun berlawanan dengan Marina yang ceria atau Indra yang polos, mata Ruben menyorot dingin, nyaris tanpa ekspresi.

“Sudah biasa,” jawab pemuda itu.

“Iya, iya, tapi tetap aja nggak baik buat mata kalau sering-sering,” Nadine duduk di pinggir tempat tidur. “Lagi baca apa?”

Ruben menunjukkan sampul buku tersebut. Nadine mengenalinya. Buku itu bercerita tentang seorang pemuda yang dididik menjadi seorang pembunuh bayaran.

“Bagus?” tanya gadis itu.

“Nggak,” jawab Ruben. “Terlalu banyak yang nggak sesuai kenyataan.”

Nadine tersenyum, “Kalau gitu, mending kita ngumpul dulu sama yang lain, yuk.”

Ruben hanya diam, jadi Nadine mengulurkan tangan. “Ayo, pasti lebih seru daripada baca buku itu.”

Pemuda itu pun menurut dan meraih tangan Nadine. Bersama-sama mereka keluar kamar. Masih sambil menggenggam tangan Ruben, Nadine menghampiri Ronny dan Indra.

Gadis itu mendudukkan Ruben di sofa, lalu ikut duduk, sengaja memilih tempat di samping Ronny. “Jadi,“ Nadine mencondongkan badan antusias, “Kalian lagi diskusiin apa?”

Indra mulai membuka mulut, namun pada saat itu mendadak terdengar suara seseorang, “Lho, Nadine, kamu sudah datang? Dari kapan?”

Gadis itu menoleh ke si pemilik suara dan menyeringai, “Udah dari tadi sih sebenernya.”

“Oh, ya?” Aryo berdiri di sampingnya, kedua tangan pemuda itu terlipat di dada. “Kok nggak bilang-bilang? Jadinya kan kita bisa mulai pertemuannya dari tadi.”

“Aku baru banget kok datengnya,” kilah Nadine. “Lagian tadi Kang Aryo nggak kelihatan di mana-mana.”

“Dari tadi aku ada di sini, kok. Kamunya saja yang nggak sadar, gara-gara terlalu fokus sama seseorang,” mata Aryo berkilat jenaka, dan Nadine pun menghela napas. Seluruh anggota Ildarrald Daevar sepertinya telah sepakat untuk menggodanya soal Ronny.

Wajah Aryo kembali serius. “Ayo, kita mulai pertemuannya, sebelum semakin malam.”

Dalam hati sebenarnya Nadine lebih ingin mengobrol dengan Ronny ketimbang ikut pertemuan. Namun Ronny sendiri sudah berdiri seraya berkata, “Ayo,” sehingga gadis itu tak punya pilihan lain selain mengikuti mereka ke ruang tamu.

Di sana semua orang sudah berkumpul. Lili, Lex, Marina, dan Ferdi. Melinda juga sudah berdiri di samping Marina. Gadis itu sama tinggi dengan adiknya, namun dengan tubuh yang lebih berisi. Rambutnya yang bergelombang tergerai sampai ke punggung.

Di sebelahnya berdiri Niken. Berlawanan dengan Melinda, Niken bertubuh cukup tinggi. Segala sesuatu pada gadis itu terlihat memiliki kualitas peri, mulai dari rambutnya yang dipotong pendek, wajahnya yang tirus, tubuhnya yang teramat langsing, sampai senyumannya yang misterius.

Di atas meja tamu kini terdapat sebuah kotak berwarna putih. Kotak apa itu? Tadi rasanya benda itu belum ada di sana? Namun perhatian Nadine langsung teralihkan saat Melinda menyapanya, “Halo, Na.”

“Hai, Mel,” jawab gadis itu. “Kata Marin kamu lagi masak, ya? Masak apa?”

Melinda dan Niken berpandangan sesaat. “Ada, deh,” sahut Melinda.

“Penasaran amat, sih?” timpal Niken seraya tersenyum.

“Aah, kenapa sih kalian hari ini?” protes Nadine. “Kok tiba-tiba semuanya pada tutup mulut gini?”

“Sudah, sudah,” potong Aryo “Nanti dilanjutin lagi ngomongin masakannya. Sekarang kita rapat dulu.”

Semua orang pun terdiam. Dalam hati Nadine mulai merasa tegang. Apa maksud pertemuan hari ini? Kenapa Aryo mengumpulkan mereka semua di Farsei Foruna seperti ini?

Dalam bahasa Ildaris, Farsei Foruna berarti Benteng yang Terlupakan. Sesuai namanya, rumah ini adalah benteng mereka. Tempat mereka berkumpul untuk bertukar kabar, menyusun rencana, juga sebagai titik keberangkatan ketika menjalankan suatu tugas. Apa itu maksud Aryo mengajak mereka berkumpul hari ini? Karena ada tugas baru?

Di hadapan mereka, Aryo berdiri tegak. Pemuda itu sebenarnya tidak lebih tinggi daripada Ferdi, namun di saat-saat seperti ini, Aryo seakan menjulang di atas mereka semua, semakin mempertegas posisinya sebagai pendiri dan pemimpin Ildarrald Daevar.

“Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku mengumpulkan kita semua,” Aryo memulai. “Itu karena ada sesuatu yang harus kusampaikan. Dan itu adalah…”

Mendadak terdengar tarikan napas tercekat seseorang. Nadine menoleh dan mendapati Melinda telah berdiri kaku. Rambut gadis itu memutih seluruhnya, begitu juga kedua bola matanya yang menatap nyalang.

Kondisi itu hanya berarti satu hal.

Melinda sedang mendapatkan penglihatan tentang masa depan.

“Mbak!” Marina langsung mendatangi gadis itu, begitu juga Ferdi. “Mbak nggak apa-apa?”

Selama beberapa saat Melinda masih tetap seperti itu. Namun kemudian warna rambutnya kembali menghitam, dan kedua matanya kembali terfokus. Namun sorot nyalang belum hilang dari matanya ketika Melinda menatap mereka semua.

“Serangan!” jerit gadis itu. “Kita akan diserang!”

Detik berikutnya semua kaca di ruangan itu pecah dalam bunyi yang memekakkan telinga.

Nadine menjerit ketika pecahan kaca berhamburan di sekelilingnya. Mendadak lima ekor makhluk telah menerjang masuk dari jendela yang terbuka. Makhluk-makhluk bertubuh hitam dengan cakar dan taring melengkung yang panjang, mirip harimau namun dengan rongga mata kosong yang mengerikan.

Makhluk jadi-jadian, yang dibuat dari sihir, dari grae!

Kelima makhluk itu meraung bersama dalam bunyi mendirikan bulu kuduk, lalu melompat menyerang.

Dalam sekejap kekacauan pecah di ruangan itu. Nadine bisa melihat seekor makhluk menerjang ke arah Marina, Melinda, dan Ferdi. Seekor yang lain merangsek ke arah Lili dan Lex, seekor memojokkan Ruben dan Indra, dan seekor berhadapan dengan Aryo dan Niken. Dalam hitungan detik makhluk-makhluk itu telah memecah mereka semua.

Tunggu. Itu baru empat. Mana yang kelima?

Detik berikutnya Nadine merasakan sesuatu menerjang dan menjatuhkannya. Punggung gadis itu menghantam lantai dan udara terhempas keluar dari paru-parunya. Cakar-cakar monster itu menusuk bahunya dan gadis itu pun menjerit kesakitan. Ia berusaha membebaskan diri, namun monster itu menahannya kuat-kuat di lantai.

Tiba-tiba terdengar seruan seseorang, nyaring di tengah raungan dan teriakan yang bercampur aduk di ruangan tersebut.

Tir te perenna lo Lanthe, ava du te jenna mir siegha ru nin kuei lo tarn!”

Cengkeraman di bahu Nadine terlepas, dan gadis itu mengangkat kepala. Di hadapannya Ronny telah berdiri tegak, selubung pelindung berwarna perak mengelilingi mereka.

“Bangun, Dialarri!” seru pemuda itu. “Serang mereka!”

Nadine tercekat. “Tapi, aku…”

“Aku cuma bisa menghalau mereka!” potong Ronny. “Cepat, sebelum dinding pelindungku tembus!”

Seakan menegaskan kata-katanya, makhluk yang tadi menjatuhkan Nadine kini melompat dan menabrak selubung perak di sekeliling mereka. Dinding cahaya itu bergeming, namun makhluk itu kembali menabrakkan diri ke sana.

“Cepat, sebelum makhluk-makhluk itu membantai yang lain!”

Seruan itu menyambar Nadine seperti petir. Yang lain. Gadis itu cepat mengedarkan pandangan dan melihat teman-temannya juga sedang berusaha mati-matian menyelamatkan diri. Namun makhluk-makhluk itu teramat kuat, hanya soal waktu sebelum salah satu dari mereka akan menjadi korban.

Dengan susah payah Nadine menekan teror di hatinya dan bangkit ke posisi duduk. Gadis itu memejam, berusaha berkonsentrasi. Namun suara raungan monster, bunyi tubuh yang bertabrakan dengan dinding pelindung, dan jeritan kesakitan teman-temannya terus membuyarkan konsentrasinya.

Mendadak Nadine merasakan seseorang menutup kedua telinganya. Gadis itu membuka mata dan menoleh, menatap Ronny yang telah berlutut di belakangnya.

“Tenang,” pemuda itu berkata di dekat telinganya. “Kamu pasti bisa.”

Kengerian masih mencengkeram tubuhnya, namun ketenangan mulai kembali dalam dirinya. Nadine menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Ronny, memejam, dan berkonsentrasi.

Dalam sekejap grae mengaliri tubuhnya, mengisi setiap relung tubuhnya dengan kekuatan yang menggelora. Nadine membuka mata dan berseru, “Seise Felliri!”

Angin beku bertiup kencang di ruangan tersebut. Pedang itu pun mewujud dari ribuan kristal es yang menyatu di udara. Begitu Seise Felliri muncul dengan sempurna, Nadine melompat bangkit dan menyambar pedang tersebut. Begitu tangannya menggenggam Seise Felliri, aliran grae baru langsung mengalir ke dalam tubuhnya, seakan pedang itu meminjamkan kekuatannya kepadanya.

Di sampingnya Ronny menghilangkan lapisan pelindung yang menyelubungi mereka. Makhluk yang ada di hadapan mereka serta-merta menerjang maju.

Nadine mengerahkan grae-nya dan menusukkan Seise Felliri ke mulut makhluk itu. Ujung pedang tersebut menembus belakang kepalanya dan monster itu pun berhenti bergerak. Kemudian tubuh makhluk itu mendadak luruh menjadi butiran abu hitam.

Nadine menarik pedangnya dan cepat mengamati sekelilingnya. Di dekat sana, Marina, Ferdi, dan Melinda sudah terpojok ke sudut ruangan. Ferdi menahan cakaran makhluk di hadapannya dengan lengan kirinya yang telah berubah menjadi lengan monster; besar, bersisik, dan bercakar tajam. Darah mengalir dari luka memanjang di lengan kanannya.

Lex dan Lili sedang berhadapan dengan seekor makhluk yang lain. Monster itu telah membenamkan taringnya dalam-dalam di lengan Lex. Pemuda itu berusaha menarik lepas tangannya, namun tak kunjung berhasil.

Dengan satu teriakan keras Nadine mengerahkan grae-nya untuk menciptakan angin beku di ruangan itu. Angin tersebut bertiup kencang, membawa serpihan-serpihan es di dalamnya, menghempas semua orang dan benda yang ada di sana. Dalam sekejap makhluk-makhluk yang menyerang Ferdi dan Lex membeku seakan diselimuti es, tak lagi bisa bergerak.

Cepat tanggap, Ferdi menggunakan kedua tangan monsternya untuk meraih kepala makhluk di hadapannya dan memutarnya sekuat tenaga sampai terdengar bunyi sesuatu yang patah. Sedangkan Lex cepat menusukkan tangan dalam-dalam ke kerongkongan makhluk di hadapannya lalu menariknya keluar. Racun keunguan menetes dari jari-jari pemuda itu.

Selama beberapa saat monster-monster tersebut masih tak bergerak. Lalu tubuh-tubuh mereka pun luruh menjadi abu kehitaman dan menghilang.

Masih mempertahankan angin bekunya, Nadine cepat-cepat memeriksa sekelilingnya. Namun ternyata tak ada lagi makhluk yang tersisa. Monster yang menyerang Ruben dan Indra telah hancur menjadi tumpukan abu. Sementara tak ada tanda-tanda sama sekali dari makhluk yang menyerang Aryo dan Niken.

Nadine menghela napas dalam dan menghilangkan angin grae-nya. Berhasil. Mereka berhasil mengalahkan makhluk-makhluk tersebut.

Selama beberapa saat tak ada yang bersuara. Kemudian terdengar suara Aryo, penuh kemarahan.

“Kurang ajar! Siapa yang berani mengirim makhluk jadi-jadian seperti ini, apalagi langsung ke rumah kita?!”

“Aku tahu siapa.”

Semua orang menoleh ke arah Ronny, dan pemuda itu melanjutkan. “Aku ingat ciri khas grae makhluk-makhluk itu. Mereka ini kiriman kelompok grasth yang kita basmi bulan lalu.”

Nadine tersentak. Ya, ia ingat. Bulan lalu mereka memang mendatangi sekelompok grasth, atau pengguna grae di Bandung ini. Karena tak mau menuruti aturan penggunaan grae yang Aryo sampaikan, kelompok itu kemudian dihancurkan, setiap anggotanya dibuat tak bisa lagi mengakses energi alam tersebut

“Mereka? Memangnya masih ada yang tersisa?” kata Aryo. “Ah, tersisa ataupun tidak, akan kubuat mereka menyesal karena sudah berani menyerang Ildarrald Daevar.”

“Sebenarnya semua ini nggak akan terjadi kalau kita nggak menyerang mereka,” sahut Ronny.

Aryo menatap pemuda itu, “Apa?”

“Ini sudah yang keberapa kali, coba? Kita menyerang suatu kelompok, dan kelompok itu balas menyerang. Mau sampai kapan kita menciptakan lingkaran setan seperti ini?”

“Itu memang harga yang harus kita tanggung. Harga yang sepadan, buat tindakan yang benar.”

“Sepadan? Kali ini kita bisa lolos, tapi berikutnya mungkin kita nggak akan seberuntung ini.”

“Kamu mau ngomong apa, sih? Kita harus berhenti meluruskan kelompok lain?”

“Kalau itu berarti menyelamatkan kelompok kita, iya,” sahut Ronny tenang.

Kemarahan Aryo mulai bangkit. “Aku tidak menyangka kamu bisa ngomong seperti itu. Kita ini Ildarrald Daevar, Pelindung Bumi! Sudah tugas kita membasmi orang-orang yang menyalahgunakan grae! Itu arti dari kekuatan kita, dari grae kita!”

“Kamu bilang menyalahgunakan, tapi sebenarnya mereka cuma menggunakannya nggak sama dengan caramu, kan?”

“Cih, buat apa aku buang-buang waktu debat denganmu?” seru Aryo. “Ruben! Nadine! Ayo berangkat! Kita basmi kelompok itu sampai ke akar-akarnya!”

Mata Ronny mendadak menyala murka, dan pemuda itu menyambar kerah baju Aryo. “Kamu sadar nggak sih ngomong apa? Lihat sekelilingmu! Nadine masih luka, Ruben juga masih terguncang! Dan kamu sudah mau mengajak mereka ke pertempuran lain? Ingat-ingat lagi hari ini kita kumpul di sini sebenarnya buat apa!”

Seruan Ronny tersebut membuat Nadine mendadak sadar akan luka-lukanya. Rasa perih langsung menghantam tubuhnya, dan gadis itu mengernyit kesakitan.

Selama beberapa saat Aryo beradu pandang dengan Ronny. Namun akhirnya kemarahan surut juga dari mata Aryo, dan pemuda itu menghela napas. “Lili, sembuhkan Nadine.”

“Ah…” Lili melirik Lex yang terluka di sampingnya.

“Aku nggak apa-apa,” sahut Nadine cepat. “Sembuhin Lex dulu aja,” yang langsung disambut tatapan terima kasih dari Lili.

Ucapan itu membuat ketegangan di ruangan itu akhirnya mencair. Helaan napas terdengar dari mana-mana, disusul tarikan napas tercekat akibat rasa sakit. Nadine sendiri berlutut di lantai, mendadak merasa amat lemas.

Ronny turut berlutut di hadapannya. “Sini.”

“Aku nggak apa-apa,” sahut Nadine. “Mendingan…”

“Udah, nurut saja.”

Nadine menurut, dan pemuda itu meletakkan kedua tangan hati-hati di bahu gadis itu yang terluka, lalu menggumamkan sesuatu. Detik berikutnya rasa sakit menghantam Nadine, membuatnya menjerit.

“Maaf,” gumam Rony. “Memang sakit sedikit. Tahan sebentar, ya.”

Walaupun masih didera rasa perih, Nadine mengatupkan mulut dan mengangguk. Detik-detik yang terasa amat panjang berlalu. Akhirnya rasa sakit itu menghilang juga, dan Nadine tertunduk lemas.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya pemuda itu.

Gadis itu mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya seraya tersenyum, lalu mengedarkan pandangan pada yang lain. “Jadi sebenarnya kita ngumpul di sini itu buat apa?”

Aryo menghela napas dalam. “Sebenarnya kami ingin merayakan ulang tahunmu.”

Nadine terbelalak. Astaga, hari ini memang ulang tahunnya! Saking tegangnya karena disuruh berkumpul di Farsei Foruna, ia sampai lupa!

“Kami juga sudah menyiapkan kue,” lanjut Aryo. “Tapi gara-gara serangan tadi…”

Nadine mengikuti pandangan Aryo, dan melihat kotak putih yang tadinya ada di meja tamu kini sudah tergeletak di lantai. Benda itu penyok tak karuan, serpihan krim dan kue bertebaran di sekelilingnya.

“Maaf, Nadine.”

Nadine menggeleng, “Nggak apa-apa.”

“Nadine…”

“Beneran,” sahut gadis itu. “Aku… udah senang kalian semua mau ngumpul di hari ulang tahunku. Itu jauh lebih berarti buatku.”

Semua orang memandanginya. Walaupun masih pucat dan terluka, tatapan mereka dipenuhi kasih sayang yang teramat dalam. Ya, ia tak butuh hal lain. Ini sudah lebih dari cukup.

“Tapi kami tetap masih punya hadiah buatmu,” kata Ronny tiba-tiba.

Nadine menatap pemuda itu. “Apa?”

Ronny mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah kalung dengan liontin berbentuk kristal es bersudut enam. Begitu pemuda itu meletakkannya di telapak Nadine, semua orang di sana serentak mengucap, “Selamat ulang tahun, Nadine.”

Tenggorokan gadis itu tercekat oleh rasa haru. Bagian belakang liontin tersebut dihiasi sebaris kalimat. Mer Nadine. Ye Dinne, Ye Larri, Ye Daevar. Untuk Nadine. Teman kami, Saudari kami, Pelindung kami.

“Terima kasih,” hanya itu yang bisa Nadine ucapkan.

Ronny tersenyum. “Ayo, ucapkan satu permintaan.”

Satu permintaan? Nadine menatap yang lainnya satu-persatu. Lili, Lex, Marina, Ferdi, dan Melinda. Ruben, Indra, Aryo, Niken, dan Ronny.

Dan ia pun tahu apa yang ia inginkan.

***

“Jadi, benda apa itu?”

Nadine tersentak dari lamunannya. Gadis itu menatap Reinald, yang sedang balas memandanginya.

“Seperti yang sudah kukatakan, hanya sesuatu dari masa lalu,” jawab Nadine.

Rei sudah akan berkata lagi, namun gadis itu mendahuluinya, “Sudah waktunya latihan. Sana, siap-siap.”

Pemuda itu menghela napas panjang, namun akhirnya melangkah pergi juga.

Nadine memandangi liontin di tangannya. Tiga setengah tahun lalu ia mendapatkan hadiah tersebut, dan mengukirkan permintaannya hari itu di belakang liontin tersebut.

Nin des sere ti imene. Semoga kita akan selalu bersama.

Keinginan yang tak terwujud.

Nadine sudah hendak melemparkan benda itu ke tempat sampah, namun mendadak mengurungkan niat. Akhirnya gadis itu membuka pintu lemari, menaruh kalung tersebut di atas tumpukan baju, dan melangkah keluar kamar.

***

Category(s): Artefaktor, Lomba Cerbul Kastil Fantasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>