Category Archives: Artefaktor

Bab 13 – Urnduit

Reinald menghembuskan napas panjang. Dengan satu tangan dilepaskannya kain hitam yang menutupi matanya. Sinar matahari menyeruak dari jendela kamar, sejenak menyilaukan tatapannya. Selama beberapa saat pemuda itu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan pandangan dengan perubahan cahaya yang tiba-tiba.

Posted in Artefaktor

Bab 12 – Fokus

Nadine berbaring di tempat tidur. Kegelapan melingkupi ruangan tersebut, karena gadis itu tak menghidupkan lampu walaupun hari sudah malam. Mata Nadine menatap langit-langit kamar, namun sesungguhnya pandangannya ada di tempat yang lebih jauh lagi. Di pohon Alleterre, nun jauh di … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 11 – Beringin dan Tanaman Rambat

Gakka berdiri tegak, kedua tangan tergantung rileks di samping tubuh. Sang urnduit mengarahkan tatapan ke langit senja ketika mengirimkan pikiran melintasi cakrawala Bandung. Jauh ke arah utara, melewati pepohonan, menyeberangi kota, menerobos pembatas magis. Ketika menemukan tujuannya, sang urnduit menunggu … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 10 – Mimpi Buruk

Nadine melangkah di sepanjang jalan Tubagus Ismail VII yang sepi dan gelap, hanya diterangi lampu perumahan yang berjajar di kiri kanannya. Langit malam tampak menggantung berat oleh awan. Sepertinya sebentar lagi hujan akan kembali mendera Bandung. Mudah-mudahan Rei tidak sedang … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 9 – Artefaktor

Reinald berdiri di depan gerbang, memandangi bangunan terlantar di hadapannya. Bagaimana caranya masuk ke dalam? Bisakah ia masuk ke sana sendirian tanpa bantuan Nadine? Seingatnya kemarin Nadine tidak melakukan apa pun yang bisa membuatnya bebas keluar masuk rumah tersebut sendirian. … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 8 – Liontin Hijau

Ketika Reinald melihatnya lagi, Nadine sudah berdiri di atas tangga yang terletak di sisi kiri rumah. Sejenak gadis itu memandanginya tanpa ekspresi, lalu melanjutkan langkah menuju lantai dua. Menghela napas dalam, pemuda itu mengikutinya. Lantai atas tersebut membuka ke sebuah … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 7 – Farsei Foruna

Air hujan beku melecuti tubuh Rei, menampar helmnya. Hanya dalam beberapa menit jaketnya sudah basah kuyup. Tangannya yang terbungkus sarung tangan hampir mati rasa karena kedinginan. Pemuda itu melirik sejenak ke belakang dan melihat Nadine. Gadis itu tampak tak terpengaruh … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 6 – Bengkel Sang Master

Nadine menarik napas dalam-dalam, lalu memejam. Dalam kepalanya ia seolah-olah berada dalam kegelapan. Tak ada apa pun di sana, tidak juga sesuatu untuk berpijak, membuat tubuhnya seperti mengambang di tengah-tengah ketiadaan. Selama beberapa saat Nadine diam menunggu, hanya terus bernapas … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 5 – Grasth

Reinald mengamati ruangan tersebut. Kerusakan terhampar di mana-mana. Kursi di dekatnya patah jadi dua. Tiga keping keramik lantai pecah, dan radius dua keping di sekitarnya retak parah. Hanya ceceran darah yang telah menghilang, baunya digantikan harum cairan pembersih lantai yang … Continue reading

Posted in Artefaktor

Bab 4 – Seise Felliri

Reinald membuka mata sejenak, kemudian menutupnya lagi. Kepalanya terasa seperti dipalu dari dalam. Pelipisnya berdenyut-denyut tak karuan. Pemuda itu mengintip lagi, melihat selarik cahaya terbias oleh gorden biru tua di sisi tempat tidur. Tampaknya sudah siang, entah jam berapa. Rei … Continue reading

Posted in Artefaktor